DR. JULI YUSRAN, S.Ag., M.Si : DIBAWAH GUNUNG TAK JADI, BONJOL RETAK DARI DALAM

BAGIAN I ANAK ALAHAN PANJANG

 

BAB 1

Lelaki Bernama Peto Syarif

Sebelum namanya dipahat oleh perang, sebelum benteng, parit, meriam, kompeni, dan pengasingan menempel pada dirinya seperti duri pada pakaian seorang pengembara, ia hanyalah seorang anak yang lahir di sebuah kampung kecil di pedalaman Minangkabau. Namanya Peto Syarif. Kampung itu bernama Tanjung Bungo.

Pada masa itu, Tanjung Bungo belum menjadi bagian dari bayang-bayang perang besar. Ia belum dikenang sebagai tempat yang kelak melahirkan seorang imam yang membuat kompeni bersusah payah. Ia hanyalah kampung yang hidup dengan napas lambat: jalan tanah yang mengikuti kontur bukit, gugus rumah panggung kayu, sawah yang menyimpan air pagi, ladang yang membuka diri di belakang rumpun rumah, tepian mandi yang ramai oleh suara perempuan, surau kecil yang menahan lampu hingga larut malam, dan balai adat tempat para lelaki tua menyusun kata-kata seperti orang menyusun batu di tepi sungai.

Pagi di Tanjung Bungo datang dengan kabut tipis. Ia turun dari perbukitan, menyusup di antara batang bambu, merayap di atas atap ijuk dan rumbia, lalu berhenti sebentar di halaman rumah-rumah panggung. Rumah-rumah itu tidak berdiri seperti deretan kota. Mereka mengikuti tanah. Ada yang agak naik di bahu bukit. Ada yang dekat jalan setapak. Ada yang membelakangi sawah, dengan pohon buah dan semak basah di antara tiang-tiangnya.

Dari kejauhan, kampung itu seperti tersusun oleh napas manusia: tidak rapi menurut mata orang asing, tetapi masuk akal menurut kehidupan orang yang tinggal di dalamnya.

Ayam berkokok dari bawah rumah. Lesung mulai berbunyi. Alu menghantam padi dengan irama yang telah dikenal perempuan-perempuan sejak kecil. Di tepian mandi, air memantulkan cahaya muda. Perempuan turun membawa kain, tempayan, dan percakapan yang hanya dapat hidup di antara mereka. Anak-anak berlari tanpa alas kaki, menjerit ketika tanah dingin menyentuh telapak. Laki-laki dewasa berangkat ke sawah, ke ladang, atau ke jalan dagang kecil yang menghubungkan satu kampung dengan kampung lain.

Tidak ada yang terlihat mewah di sana. Tetapi kehidupan tidak selalu memerlukan kemewahan untuk terasa utuh.

Nasi adalah pusat kenyang. Cabai, ikan kecil dari sawah, belut, sayur, kelapa, ikan kering, dan sesekali daging dalam perjamuan adat, itulah yang menahan tubuh manusia tetap bekerja. Dari dapur-dapur kayu, asap naik pelan, membawa bau nasi panas, sambal yang baru digiling, daun basah, dan abu tungku.

Peto Syarif lahir ke dalam dunia seperti itu. Dunia yang tidak mengenal manusia sebagai milik dirinya sendiri saja.

Di Minangkabau, seorang anak lahir ke dalam rumah ibunya, ke dalam garis kaum ibunya, ke dalam tatapan perempuan-perempuan yang menjaga api dapur dan pusaka, ke dalam kuasa mamak yang kelak menuntun dan menegurnya, ke dalam suara penghulu yang dapat menentukan arah perkara, dan ke dalam adat yang lebih tua daripada umur semua orang yang masih hidup.

Sejak kecil, Peto Syarif belajar bahwa rumah bukan sekadar dinding. Rumah adalah kaum. Rumah adalah tanah pusaka. Rumah adalah perempuan yang menjaga kesinambungan. Rumah adalah mamak yang berdiri di luar, mengurus hubungan dengan dunia. Rumah adalah suara tua yang berkata, “Jangan lupa asalmu.”

Di rumah gadang, ia melihat perempuan-perempuan bekerja dengan ketekunan yang tidak banyak dipuji. Mereka menyiapkan makanan, menjaga anak-anak, mengurus padi, kain, dan hal-hal kecil yang membuat hidup tidak runtuh. Di balai, ia melihat para lelaki menyusun kalimat dengan adat: siapa berhak bicara, siapa harus didengar, siapa menunduk, siapa menjawab. Di surau, ia mendengar suara lain; suara guru agama, suara anak-anak mengeja huruf Arab, suara bacaan yang mula-mula berat di lidah, lalu pelan-pelan menjadi jalan bagi hati.

Adat dan agama hidup berdampingan. Belum selalu bertengkar. Belum pula sepenuhnya menyatu.

Adat adalah kerangka yang mengatur langkah manusia di kampung. Agama adalah cahaya yang pelan-pelan makin terang di dalam kerangka itu. Penghulu masih kuat. Malin dihormati, tetapi belum selalu menjadi pusat. Surau penting, tetapi balai adat pun tetap punya wibawa. Seorang anak seperti Peto Syarif tumbuh di antara keduanya, antara adat yang diwarisi dan agama yang mengajari manusia menundukkan diri di hadapan Allah.

Mungkin sejak kecil ia belum memahami pertentangan itu. Anak-anak tidak lahir dengan pengetahuan tentang kuasa. Mereka hanya merasakan siapa yang ditakuti orang, siapa yang disegani, siapa yang lembut, siapa yang kata-katanya membuat orang lain diam.

Peto Syarif memperhatikan. Ia bukan anak yang selalu berada di tengah keramaian. Ada anak yang sejak kecil suka memerintah kawan-kawannya; ada pula anak yang lebih sering melihat dahulu sebelum bicara. Peto termasuk yang kedua. Ia menyimpan dunia di matanya.

Ia melihat seorang penghulu duduk di balai dengan suara berat. Ia melihat seorang mamak menegur kemenakan dengan kasih yang disembunyikan di balik kata keras. Ia melihat guru surau memukul lantai dengan rotan kecil, bukan untuk menyakiti, tetapi untuk membuat anak-anak kembali kepada bacaan.

Ia melihat perempuan tua meniup api di dapur, lalu mengusap kepala cucunya sambil menyebut nama Allah. Ia melihat pedagang lewat membawa garam, kain, besi, atau kabar dari tempat jauh. Ia melihat orang pulang dari pasar dengan cerita yang lebih panjang daripada barang bawaan.

Kampung kecil itu tidak pernah benar-benar terpisah dari dunia. Jalan setapak mungkin sempit, tetapi kabar dapat melewatinya. Orang pergi ke ladang, ke pasar, ke nagari lain, lalu kembali membawa cerita tentang harga barang, guru agama, perantau, pertikaian, dan perubahan yang mula-mula terasa jauh tetapi pelan-pelan sampai juga ke halaman rumah.

Pada malam hari, Tanjung Bungo berubah menjadi dunia yang lebih dalam. Gelap turun cepat dari rimba dan bukit. Rumah-rumah menyalakan lampu kecil. Suara lesung berhenti. Suara anak-anak mengecil. Dari surau, bacaan mengaji mulai naik, kadang lancar, kadang patah, kadang diulang karena guru membetulkan makhraj.

Peto Syarif menyukai suara malam di surau. Di sana, anak-anak lelaki mulai dibentuk. Setelah usia tertentu, mereka tidak lagi sepenuhnya tidur di rumah. Surau menjadi tempat belajar, tempat bercakap, tempat mendengar cerita orang tua, tempat mengenal disiplin, tempat seorang anak mulai mengerti bahwa menjadi laki-laki bukan hanya soal tubuh yang tumbuh, tetapi juga soal menahan lidah, menjaga malu, menghormati guru, dan tahu kapan harus menunduk.

Di surau, ia belajar huruf. Di balai, ia belajar adat. Di rumah gadang, ia belajar asal-usul. Di sawah, ia belajar bahwa nasi tidak lahir dari doa saja, tetapi dari kaki berlumpur dan punggung yang letih. Di tepian mandi, ia belajar bahwa sebuah kampung hidup dari kerja yang tidak selalu disebut dalam cerita besar.

Dan dari semua itu, pelan-pelan, tumbuhlah seorang anak yang kelak akan dipanggil zaman. Tetapi pada masa kecilnya, zaman belum datang dengan wajah perang.

Zaman datang sebagai suara angin di daun bambu, sebagai kabar pasar, sebagai guru yang makin sering menyebut hukum agama, sebagai penghulu yang tetap memegang adat, sebagai orang tua yang mengeluh melihat sabung ayam, tuak, arak, dan perangai anak nagari yang kadang melampaui batas.

Peto Syarif melihatnya. Ia belum memberi nama. Tetapi ia menyimpan. Ada hal-hal yang masuk ke dalam jiwa seorang anak sebelum anak itu mampu menjelaskannya. Ia akan tampak diam, tetapi di dalam dirinya dunia sedang menyusun tempat. Kelak, ketika ia dewasa, semua yang pernah dilihatnya akan kembali: suara alu, bau sawah, hukum adat, bacaan surau, mata perempuan yang takut kehilangan anak, penghulu yang keras, kaum yang retak, dan kampung yang harus diselamatkan dari dirinya sendiri.

Pada suatu sore, ketika matahari turun ke balik bukit dan cahaya berubah menjadi keemasan yang lembut, Peto Syarif duduk di dekat jalan tanah. Di depannya, orang-orang pulang dari sawah. Kaki mereka berlumpur. Pakaian mereka basah keringat. Seorang ibu membawa anak kecil di pinggang. Seorang lelaki tua memikul alat kerja. Dua anak berlari sambil tertawa, lalu berhenti ketika seorang mamak menegur.

Di kejauhan, surau mulai menyiapkan malam. Peto Syarif memandang semua itu tanpa tahu bahwa suatu hari nanti ia akan menanggung nasib orang-orang seperti mereka. Orang sawah, orang dapur, orang surau, orang balai, anak-anak, perempuan, penghulu, dubalang, semuanya kelak akan datang ke hadapannya dalam bentuk doa, permintaan, perang, dan tangis.

Sejarah sering memilih seseorang ketika orang itu belum sempat menolak. Hari itu, Peto Syarif hanya seorang anak Tanjung Bungo.

Tetapi di dalam kampung kecil yang memanjang mengikuti jalan tanah dan kontur bukit itu, hidup telah mulai menaruh benih pada dirinya: benih kepekaan, benih keadilan, benih kesunyian, dan benih luka yang kelak akan tumbuh menjadi nama besar.

Di bawah langit Minangkabau yang perlahan gelap, suara mengaji naik dari surau. Dan anak itu mendengarnya. Seolah untuk pertama kali ia mengerti, hidup manusia tidak hanya berada di antara rumah dan sawah.

Ada panggilan lain. Panggilan yang datang dari tempat lebih tinggi daripada bukit. Dan lebih berat daripada tanah. ( DR. JULI YUSRAN, S.Ag., M.Si)

Penulis